Senin sore,hampir maghrib. Saya menyusuri jalan kalimalang dari arah UNISMA. Berbaur bersama ratusan pengendara motor lainnya. Terjebak kemacetan. Sementara teman saya, Arief mengemudikan motor, saya duduk manis di boncengan sambil sesekali melihat jam di tangan. Melewati lampu merah tol timur, handphone saya bunyi
“saya tunggu di depan Sumi Asih ya Mba Ady”
Sampai di depan PT Sumi Asih,saya sudah di tunggu oleh Pa Toni. Dari situ,saya dibawa Pa Toni menyusuri gang sempit di samping PT Sumi Asih. Di tempat seperti inilah,kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Menjelang maghrib,anak-anak berlarian menuju musholla yang yah,kalau ngga mau dibilang kecil,kita sebut saja apa adanya. Aroma-aroma khas pemukiman padat tercium. Saya juga melewati tempat pemancingan. Dan, sungguh kontras. Anak-anak menuju musholla, sementara ngga sedikit juga laki-laki dewasa yang masih asik mancing sambil merokok ataupun sekedar kongkow-kongkow.
Setelah cukup jauh melewati rumah-rumah padat penduduk,melihat dengan nyata kehidupan yang sebelumnya mungkin saya ngga tau,saya sampai di depan rumah petak. Dengan pagar bambu yang sudah hampir rubuh. Ada pohon-pohon yang tumbuh tak terurus. Lalu saya diajak masuk. Hmmm…..rumah petak,4 pintu. Di cat warna hijau muda yang sudah hampir pudar. Atapnya sudah pada bolong. Saya melewati 2 pintu pertama,dan di persilahkan masuk di pintu ketiga. Apa yang saya lihat? Continue reading →
-6.139330
106.892627