Jika Aku Menjadi,,,,


Pasti kalo baca judulnya,langsung inget sebuah acara reality show di salah satu stasiun TV swasta. Acara yang menampilkan seorang berpunya yang merasakan hidup bersama orang yang keadaannya apa adanya. Di acara itu di perlihatkan gimana si talent bersusah payah hidup dalam keadaan yang ngga biasa. Kadang – kadang bisa di bilang agak berlebihan sekali sikap sang talent. Mmm….bisa di pahami,acara reality show yang mengejar rating.

Kenapa tiba-tiba saya kepikiran buat nulis tentang ini?

Jawabannya sederhana. Ini inspirasi dari adik perempuan saya yang baru aja mengalami hal seperti itu. Bukan dalam acara reality show di TV swasta itu. Tapi mengalami real.

Jadi,adik saya punya sahabat dekat yang bisa dibilang keluarganya ngga mampu. Kadang-kadang dia ngga masuk sekolah karena orang tuanya ngga bisa kasih ongkos. Kadang-kadang bayarannya nunggak. Miris. Miris banget emang. Ini adalah potret real kehidupan di Indonesia. Sahabat adik saya ini anak tertua dengan 3 adik yang masih kecil. Ibunya buruh cuci. Ayahnya pekerja konstruksi. Mereka tinggal di pinggiran jakarta. Di sebuah pemukiman padat. Ketika pulang dari rumah sahabatnya ini,adik saya langsung bercucuran air mata & menangis sejadi-jadinya. Apa yang keluar dari bibir mungilnya?

“dede ngga tega liatnya….ko bisa ya mereka hidup kayak gitu?dede ngga tega…”

Itu ucapan seorang anak kecil yang polos. Jujur apa adanya. Kunjungan pertama kali ke rumah sahabatnya merupakan pukulan mental paling berat untuk adik saya. Saya ngerti kenapa dia sampai begitu terguncang melihat keadaan keluarga sahabatnya. Karena adik saya tidak pernah tahu bagaimana diluar sana masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan penghidupan yang layak. Masih banyak anak-anak yang harus berjibaku dengan keadaan. Pun,untuk sekedar mencari sesuap nasi. Mereka,yang kadang hanya berpikir bagaimana hidup untuk besok.

Sampai akhirnya,setelah kejadian itu,saya melihat ada perubahan dalam diri adik saya. Kadang adik saya memaksa sahabatnya untuk tinggal beberapa hari di rumah kami agar tidak bolos sekolah.

Kemarin,adik saya memutuskan untuk menginap di rumah sahabatnya itu karena di undang oleh orang tua sahabatnya. Setelah pulang dari sana,sampai di rumah,adik saya kembali bercucuran air mata sambil terisak dia bercerita kalau dia ngga sanggup ngeliat keadaan sahabatnya itu.

Potret kehidupan masyarakat Indonesia kebanyakan. Lalu hanya sedikit dari kita yang peduli. Ini real. Bukan seperti acara reality show di TV. Ngga perlu juga kamera buat membantu mereka.

Cerita ini mungkin hanya 1 dari sekian banyak potret suram keadaan di Indonesia. Saya, Adik saya,atau mungkin anda pernah merasakan & mengalami keadaan seperti ini. Cukup memberi senyum,simpati,empati,dan sedikit kasih sayang. Mengulurkan tangan tanpa mengharap imbalan. Memberi bantuan tanpa perlu menepuk dada.

Sedikit tempaan mental akan membuat kita sadar,ada orang-orang yang harus kita bantu. Ada orang-orang yang harus kita perhatikan.

Karena ada sebagian hak mereka dalam apa yang kita miliki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s