Mereka yang terlupakan


Pagi itu,selepas adzan subuh berkumandang. Dengan sigapnya seorang kakek separuh baya yang rambutnya sudah memutih itu keluar dari rumahnya yang sangat sederhana. Dengan kemeja usang,celana panjang yang sama kusamnya dengan kemeja yang ia pakai,tak lupa sepatu boots yang warna hijaunya sudah memudar,ia melangkahkan kaki. Tak lupa tas yang sudah robek disana sini ia selempangkan di bahunya. Ia berjalan dalam keheningan subuh. Menyusuri jalan yang tidak dapat dikatakan dekat jaraknya. Ia berjalan menuju tempat kerjanya. Di kantor pemda sebagai tukang sapu jalanan. Itu ia lakukan demi menopang kehidupan keluarganya. Berjalan kaki dari rumah ke tempat kerjanya yang berjarak sekitar 7 Km pun ia lakukan. Tanpa keluh. Tanpa putus asa. Pun,pekerjaannya yang hampir tidak dianggap tetap ia jalani dengan rasa syukur.

Dengan seragam khas berwarna oranye,seorang Ibu yang juga hampir paruh baya tengah asyik dengan pekerjaannya. Tangannya begitu terampil memainkan sapu lidi bergagang panjang itu. Sesekali ia tersenyum & menyapa pejalan kaki yang lewat di trotoar. Aku salah satunya. Kadang ia membawa cucunya dalam gendongan. Kadang kudapati ia tengah menyeka keringat & menghilangkan dahaga. Dia,si ibu tukang sapu di Pintu 3 Plumpang.  Yang selalu aku temui setiap pagi ketika aku menuju kantor. Suatu ketika,si ibu tidak terlihat selama seminggu. Dari cerita tukang sapu yang menggantikannya,si ibu menjadi korban tabrak lari dan luka serius pada kakinya. Hmm,miris mendengarnya.

Lain lagi cerita Pak Hansip yang setia & siaga menjaga keamanan di kompleks rumah ku. Sama paruh bayanya dengan Ibu & Bapa tukang sapu diatas. Dengan sepeda tuanya,dia berkeliling kompleks. Tiap 1 jam dia memukulkan tongkat ke tiang listrik guna memberi tanda. Setiap aku berangkat kerja jam 5,dia pasti berdiri di ujung jalan. Menyapa,memberi senyum. Dari wajahnya terlihat ketulusan & keikhlasan.

Saya,kamu,kita mungkin ngga pernah membayangkan hidup yang mereka jalani seperti apa rasanya. Mereka,orang-orang yang terlupakan. Sedikit dari sekelumit cerita para kaum yang terpinggirkan. Mereka dalam susah. Mereka dalam ketidakpunyaan. Tapi mereka tidak berputus asa. Mereka jauh lebih kaya dalam hati. Ahhh,indahnya jika bisa berbagi. Mungkin saya,kamu,kita bisa belajar banyak atau sedikit dari mereka. Tentang ikhlas,sabar,dan pantang menyerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s