Episode Kidung .: Kidung Sedih :.


Kidung masih menggeliat dalam selimut. Matanya setengah terpejam. Seperti biasa,ia menggapai-gapai tangannya di sela-sela bantal mencari benda berharganya,Handphone! Sambil masih setengah terpejam,dia melihat jam & nyaris mencari nama Ardi di phonebooknya. Tapi ia langsung terduduk & tersadar,kalo dia ngga akan pernah lagi ngehubungin Ardi. Kidung duduk bersandar di tempat tidurnya. Matanya menerawang. Perlahan air matanya turun.

“mbaa,,,,mba iyuuung,,,,,”

Kidung menghapus air matanya. Adik bungsunya yang masih berumur 6 tahun & baru aja masuk SD sudah menunggu di depan pintu,minta diantar ke sekolah.

Kidung membuka pintu dan segera mencium adik kecilnya yang menggemaskan itu.

“iihhh ngga mauuu,,,mba iyung bauu,,,blom mandi” Kiran menjauh dari Kidung,tapi si kecil itu kalah cepat dengan kakaknya. Sambil menggendong Kiran,Kidung turun ke meja makan. Disana udah ada Mas Banyu & istrinya,Mba Aya. Kakak tertua kidung ini baru menikah 3 minggu yang lalu. Jadi rumah mereka bertambah ramai. Walaupun tanpa kehadiran Mama & Papa yang lebih dulu di panggil Tuhan,3 minggu yang lalu.

+++

Namanya Kidung. Gadis berumur 22 tahun . Kidung adalah seorang desainer interior. Tapi semenjak  Mamanya  meninggal,Kidung harus nerusin usaha butik mamanya juga yang cukup terbilang sukses.  Ngga hanya itu,Kidung harus mengurus si kecil Kiran yang lucu itu. Kepergian  Mama & Papa yang tiba-tiba memberi  pukulan berat buat Kidung. Kalau Mas Banyu mungkin masih sedikit tegar,karena ia anak tertua. Kiran mungkin juga masih belum terlalu tau kenapa Mama & Papanya sekarang ngga lagi di rumah. Tapi Kidung?Kidung dekat sekali dengan Mamanya. Juga dengan Papa. Karena selama  ini,ia yang lebih sering tinggal di rumah. Karena Mas Banyu sebelumnya tinggal di Surabaya,dan setelah kepergian orang tua mereka,Mas Banyu pindah ke Jakarta & meneruskan perusahaan Papa di bidang properti.

Kidung mengantar Kiran sampai di gerbang sekolah. Setelah mengecup pipi adik tersayangnya,Kidung kembali ke mobil. Sampai di rumah,setelah memberi  tau Bi Tum harus masak apa siang ini untuk Kiran & memberi  tau harus menjemput Kiran jam berapa,Kidung kembali ke kamar. Lama dia termenung di jendela kamarnya.  Kesendirian ini mengingatkan kidung pada Mama,Papa,dan Ardi.

+++

3 bulan lalu

Malam itu hujan deras. Kidung memperlambat laju mobilnya. Jam menunjukan angka 11 malam. Karena di kejar deadline project,Kidung harus lembur. Sambil nyetir,Kidung terus menghubungi Ardi,orang yang sudah 5 tahun ini jadi pujaan hatinya. Tadi pagi Ardi telfon & bilang ngga enak badan,makanya dia ngga ngantor. Kidung khawatir banget sama keadaan Ardi  walaupun dia belum liat langsung. Makanya,Kidung memutuskan untuk mampir ke Apartemen Ardi. Kidung langsung menuju kamar no 631 & memencet bel. Tapi ngga ada jawaban. Kidung menelfon handphone Ardi,tapi ngga aktif. Akhirnya Kidung memutuskan untuk masuk,Karena dia punya kuncinya. Hal ini biasa. Karena ngga jarang kalau weekend,Kidung menghabiskan waktu disini. Membenahi apartemen Ardi,masak,atau kumpul bareng Ardi & kawan-kawannya,Karena keluarga Ardi ada di Malang.

Setelah masuk,Kidung mendapati baju Ardi berceceran di lantai,lampu menyala. Kidung menuju kamar Ardi,pintunya terbuka. Di depan pintu,Kidung mendapati pakaian wanita berceceran. Hatinya mulai ngga karuan. Kidung melangkah masuk ke kamar Ardi. Lalu apa yang dia dapat?Pemandangan di depannya bener-bener membuat Kidung nyaris pingsan. Ardi sedang bersama perempuan lain. Diatas tempat tidur,tanpa sehelai benang di tubuh mereka!

Ardi tersentak dipergoki Kidung. Kidung merapatkan tubuhnya yang limbung ke tembok. Air matanya turun perlahan. Dan tanpa sadar dia mengambil vas bunga di meja yang ada di sampingnya. Dengan sekuat tenaga dia lemparkan kearah Ardi & pasangan gilanya yang masih saja bengong karena di pergoki Kidung. Vas bunga itu beradu dengan dinding & pecahannya berhamburan. Ardi & perempuan itu buru-buru menutupi tubuh mereka dengan selimut & turun dari tempat tidur.

Ardi menahan Kidung yang langsung lari.

“tunggu sayang,,,tunggu,,,aku bisa jelasin,,,,”

Kidung ngga menjawab. Ia terus berlari keluar pintu & menuju lift. Tinggal Ardi yang masih bengong di depan pintu apartemennya.

+++

Semenjak kejadian malam itu,Kidung ngga mau lagi berhubungan sama Ardi. Semua barang pemberian Ardi dia kembalikan melalui jasa pengiriman barang. Ardi beberapa kali mencoba menemui Kidung,tapi beberapa kali juga Kidung menghindar. Telepon dari Ardi dia reject terus.

Mama & Papa terus mensupport Kidung. Bahkan mereka ber-4, Mama,Papa,Kidung & Dek Kiran memutuskan liburan ke Wakatobi. Kidung memang berusaha tegar. Dia sama sekali ngga menunjukan kesedihan di hadapan Mama & Papa. Pun,ketika Mas Banyu menginterogasinya via telepon,Kidung berusaha terlihat baik-baik saja. Walaupun sebenarnya dia hancur. 5 tahun sama Ardi,terus tiba-tiba sendiri. Kadang Kidung masih suka lupa,mau nelfon atau SMS Ardi,untungnya dia selalu sadar sebelum teleponnya tersambung atau SMSnya terkirim.

Kesendirian Kidung membuat luka dalam di hatinya. Ia menjadi trauma untuk berhubungan dengan laki-laki. Kidung benar-benar berjuang untuk lepas dari bayang-bayang Ardi. Malam itu,Kidung duduk berdua dengan Mama di ruang TV.

“yung,kamu masih mikirin Ardi?”

“ngga mah,,,,” jawab Kidung berbohong

“mama ngga mau kamu sedih yung,,,,ikhlasin aja,,,,Tuhan pasti tau yang terbaik buat kamu ya,,,” Mama mendekap erat Kidung.

“ya Mam,,,,I know,,,God never sleep,,,”

“cari laki-laki yang bukan Cuma baik,tapi bisa jadi imam buat kamu,,,,nanti kalau mama sama papa ndak ada,paling ngga ada yang bisa jagain kamu sama Kiran,,,kalo Mas mu kan udah bisa mama lepas yung,,,,” Mama mencium pipi Kidung.

Ada perasaan sedih hinggap di batin Kidung. Kenapa kata-kata Mama barusan kerasa so deep di hati Kidung. Dan kejadian beberapa hari kemudian jadi jawabnya.

+++

Sabtu pagi itu Papa & Mama pamit mau pergi ke acara undangan pernikahan anaknya temen Papa. Undangannya di Bandung. Tadinya mama mau ajak Kiran,tapi si kecil demam dari semalem,makanya mama urung membawa si kecil.

“de Kiran sama mba iyung ya di rumah,,,jangan nakal,,,jangan nangis,,,,baik-baik ya nak,,,” Mama memeluk Kiran yang masih pakai piyama warna pink kesukaannya.

“sini de,,,” gentian Papa memeluk Kiran

“janji ya?nurut sama mba iyung,,,,Kiran harus rajin belajar,,,,biar jadi dokter,,,ya kan?”

Kiran hanya mengangguk

“I love you,,,” kata Papa

“Kiran juga love Papa,,,sama mama juga,,,” Kiran memamerkan deretan giginya yang putih

Sekarang Mama memeluk Kidung

“kamu tenang aja,,,nanti sore mas mu dateng ko dari Surabaya,,,,,jadi kamu ngga akan sendiri,,,”

“ihh Mama kaya mau pergi jauh aja deh,,,nanti sore juga kan pulang,,,” Kidung menggelayut di pundak Mama

“yung,,,kamu harus nurut sama Mas mu ya,,,,kan kalo Papa ngga ada,kamu itu jadi tanggung jawab mas mu,,,”

Dan berangkat lah Mama & Papa. Kidung merasa ada firasat lain. Sepeninggal Mama & Papa,Kiran panas tinggi. Dia muntah,ngga mau makan. Nangis terus manggil-manggil Mama & Papa. Tapi selepas Ashar,panas badannya turun,udah ngga rewel lagi & udah ngga minta di gendong terus.

“mba iyung,Kiran mau bobo di kamar mama,,,”

Kidung menggandeng tangan Kiran ke kamar Mama. Begitu pintu di buka,kenapa tiba-tiba Kidung mencium aroma melati. Padahal di rumah ini ngga ada yang pake parfum aroma melati. Baru aja Kidung duduk di kasur,Bi Tum memanggil,ada telepon katanya. Selang beberapa detik setelah terima telfon,Kiran terduduk lemas di lantai. Air matanya turun & tangisnya tanpa suara. Bi Tum,Mang Ujang & Mba Las mencoba menenangkan Kidung & mencari tau ada apa. Sambil terbata-bata,Kidung bicara

“ma,,,ma,,sama,,,pa,,pa,,,me,,ninggal,,,,”

Hebohlah seisi rumah. Bi Tum sibuk menghubungi Mas Banyu. Mang Ujang menghubungi keluarga besar Papa. Mba Las menghubungi keluarga besar Mama. Kidung masih dengan tertatih masuk ke kamar Mama & menciumi si kecil Kiran yang Cuma bisa bengong.

“mba kenapa mba?kenapa nangis?kenapa ciumin ade kaya gini?” celotehnya.

Kidung hanya menangis tanpa jawaban. Ia belai lembut rambut keriting Kiran. Ternyata pesan Mama & Papa tadi pagi adalah pesan terakhir.

“kiran sayang,,,,mama sama papa ngga akan pulang,,,,sekarang kiran harus nurut sama mba iyung ya,,,”

Kiran Cuma bisa menatap Kidung.

+++

Jenazah Mama & Papa sampai di rumah tepat jam 10 malam. Dan akan dikebumikan besok pagi. Mas Banyu sampai rumah jam 11 malam. Karena banyak pertimbangan,akhirnya di sepakati bahwa sebelum pemakaman,akan di gelar prosesi akad nikah Mas Banyu & Mba Aya. Karena sebenarnya,1 bulan lagi Mas Banyu & Mba Aya akan menikah. Jadi malam itu,semua keluarga sibuk mempersiapkan akad nikah besok.

Sementara itu,Kidung masih mendekap Kiran dalam gendongannya. Ia ngga beranjak sedikit pun dari samping jenazah Mama & Papa sambil membacakan yaasin. Air matanya ngga terbendung. Om & Tante membujuk Kidung untuk tidur,tapi Kidung menolak.

“iyung mau disini aja nemenin Mama sama Papa,,,,”

Tepat jam 8 pagi,akad nikah Mas Banyu & Mba Aya dimulai di hadapan jenazah Mama & Papa. Suasana haru ngga terelakan. Mas Banyu ngga mampu menahan air mata,begitu juga Mba Aya. Kidung yang sudah nangis semaleman,hanya bisa menatap sayu. Tatapan matanya kosong. Ketika jenazah akan di bawa ke pemakaman,Kidung papasan dengan Ardi di depan teras.

“aku mengucapkan turut berduka cita,,,,” Ardi menyodorkan tangan.

Kidung yang menggendong Kiran masih diam terpaku

“tolonglah yung,jangan bawa-bawa masalah kita hari ini,,,aku datang dengan tulus,,,”

“terima kasih,,,” Kidung menjabat tangan Ardi dengan enggan.

“boleh aku peluk Kiran?” kali ini Ardi menyodorkan tangannya hendak menggendong Kiran

Kiran langsung memeluk Ardi. Kiran memang deket banget sama Ardi. Ardi pun selalu memanjakan Kiran.

“mas ai,,,mama sama papa lagi bobo,,,,tuh mau dibawa pake mobil tuh,,,katanya bobonya tenang banget ngga boleh di ganggu,,,biar ketemu sama Allah,,,”

Kidung hanya tertunduk sedih. Ardi memeluk Kiran

“kiran jangan nakal ya,,,harus nurut sama mba iyung sekarang,,,” Ardi mencium pipi tembem Kiran.

Ardi menyerahkan Kiran ke Kidung.

“kalau kamu perlu apa-apa,atau kalo kamu perlu bantuan aku,bilang aja,,,,”

“ngga perlu,makasih,,,aku bisa sendiri”

Kidung buru-buru pergi menuju mobil.

+++

Sekarang,setelah hampir 3 bulan sejak perpisahan Kidung sama Ardi & 3 minggu setelah kepergian Mama & Papa,Kidung merasa  dunia mulai sepi. Kadang dihinggapi rasa kangen yang amat sangat sama Mama & Papa. Kadang ada rasa butuh kehadiran Ardi. Kadang Kidung merasa ngga sanggup menangani Kiran,apalagi kalau dia mulai rewel,inget sama Mama & Papa.

“mah,ngga gampang buat Kidung ngelewatin ini,,,,pah,kidung ngga sanggup,,,,”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s