Episode Kidung .: Senandung Cinta Kidung :.


Malam minggu ini Kidung terpaksa ninggalin Kiran di rumah sama pembantu karena Kidung ada acara reuni sama temen-temen SMP nya. Tadinya Kidung mau ajak Kiran,tapi Kirannya ngga mau ikut

“ngga ahh….isinya tante-tante sama om-om semua….”

Terang aja Kidung melotot.

“emang mba iyung kaya tante-tante apa??”

Kiran Cuma nyengir.

Jam 7 Kidung udah nyampe di depan Kafe tempat reuni. Ragu-ragu dia masuk. Tiba-tiba pundaknya di tepuk

“Kidung?”

Kidung bengong.

“Ini meri,,,,inget??”

Berpelukan lah dua sahabat itu. Sepanjang acara reuni,Kidung bisa melupakan sejenak rasa sedihnya. Dia bener-bener having fun sama temen-temennya. Lagi asik ngobrol bareng Meri & Indah…

“Yung,lo inget ga sih sama si Sandy?”

“sandy?” Kidung berusaha mengingat-ngingat

“iyaa….si Sandy mantan ketua OSIS….tadi dia nyariin lo….”

Kidung Cuma senyum-senyum.  Belum ada 5 menit mereka nyebut nama Sandy…

“hai ladies,,,,,”

Kidung terperangah menatap sosok cowo yang ada di depannya. Badannya atletis,dadanya bidang,face-nya cute abis

“haiii mantan ketua OSIS,ini nih yang dirimu cari-cari….” Meri sengaja nunjuk-nunjuk ke Kidung

“hai,,,dah lama ga ketemu,,,,apa kabar?” Sandy nyodorin tangannya. Kidung dengan tergagap menyambut uluran tangan Sandy. Tanpa di komando,Indah & Meri mengambil langkah seribu.

“oh iya,turut berduka cita ya atas meninggalnya Om sama Tante…”

“makasih….ngga kerasa,udah hampir 6 bulan mama sama papa ngga ada….”

“maaf ya aku ngga sempet pamit waktu kelulusan SMP….”

“iya ngga apa-apa….aku tau sebulan setelah kamu pergi…”

“aku….ngerasa ada yang belum tuntas antara kita…” Sandy menatap Kidung

+++

Kidung masih di ruang kerjanya. Dia masih menekuni layar PC-nya. Sesekali dia web cam-an sama Kiran. Semenjak Mas Banyu ngga tinggal lagi di rumah,komunikasi antara Kidung &  kakaknya itu bener-bener minim. Kalopun ada SMS atau telfon,sekedar basa-basi. Kidung ngga ambil pusing. Dia mencoba santai. Layar chat-nya menyala

SandyPratama

Masih di kantor?

Dengan sigap Kidung membalas

Ki_Dung : yap….biasaaa mencari sesuap nasi

SandyPratama : mau JCo ngga?

Ki_Dung : ihhh mau bangeeettt

Tiba-tiba Sandy offline.

Kidung meneruskan pekerjaannya. Lalu,pintu ruangannya di ketuk. Dan mucullah sosok yang belasan tahun lalu pernah begitu akrab di ingatannya. Ya,sewaktu SMP,Kidung & Sandy pernah begitu dekat. Dari kelas 1 sampai kelas 3. Ada hal yang ngga biasa antara mereka,tapi ngga pernah juga ada ikatan apa-apa. Di penghujung kebersamaan mereka di SMP,Sandy mengucap kata “I Love you so much…” . Tapi episode Kidung & Sandy ngga berlanjut karena Sandy pergi beberapa hari kemudian & tanpa kabar. Baru Kidung tahu,kalau Sandy ikut ayahnya pindah tugas ke Kalimantan. Dan baru 2 tahun ini Sandy kembali ke Jakarta karena dipindah tugaskan oleh kantornya.

“boleh masuk?” Sandy masih berdiri di ambang pintu

“silahkan…”

“ini pesenan JCO-nya”

Sandy membawa sekotak donat JCO kesukaan Kidung. Kidung tertawa. Selepas reuni,hubungannya dengan Sandy makin dekat. Kadang weekend Sandy ngajak Kidung & Kiran jalan-jalan. Ke Dufan, ke SeaWorld,ke Taman Mini. Atau sekedar nonton film kartun di rumah. Kiran happy banget. Sandy perhatian sekali sama Kiran,karena Sandy anak bungsu. Sandy memperlakukan Kidung dengan sangat manis. Perhatian-perhatian kecil dari Sandy membuat Kidung merasa ada yang mengisi kekosongan hatinya.

+++

Hampir 3 bulan ini Sandy terus menerus ada di dekat Kidung & Kiran. Kalau Kidung sibuk di butik hari Sabtu, Sandy yang akan mengambil alih tugas mengantar jemput Kiran privat renang. Setelah itu,mereka makan es krim kesukaan Kiran,nyekar ke makam Mama & Papa,atau sekedar duduk-duduk di taman. Kidung senang karena Sandy bisa cepet deket sama Kiran. Secara,Kiran masih bener-bener lekat sama sosok Ardi. Bi Tum,Mba Las atau Mang Ujang ngga jarang juga kebagian perhatian dari Sandy. Kalau dia pulang tugas dari luar kota,3 orang itu pasti kebagian oleh-oleh. Pernah suatu hari,Mba Las sambil senyum-senyum menggoda Kidung

“laahh Non….nunggu apalagi….Den Sandy itu kayanya kesengsem berat sama si Non…”

Kidung Cuma nyengir aja ngedenger kata-kata Mba Las.

Sejauh kedekatan mereka,Sandy belum sekalipun pernah bicara soal mereka. Dia & Kidung. Ngga sekalipun pernah terucap kata “sayang…” atau kata-kata yang menjelaskan hubungan seperti apa yang mereka jalani. Kidung ngga ambil pusing. Menurutnya,ngga perlu juga hal itu diucapkan dengan kata-kata. Apa yang Sandy lakuin buat dirinya & Kiran lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya.

Orang tua Sandy masih di Kalimantan,jadi Kidung belum di pertemukan dengan mereka. Tapi dari cerita Sandy,Mama & Papanya tau soal hubungan mereka. Kedekatan itu terus mereka jalin dengan semakin intens. Pernah suatu ketika,Kidung bertanya soal hubungan macam apa yang mereka jalani. Dengan enggan Sandy menjawab

“kenapa sih yung kamu tanyain itu?perhatian sama waktu ku buat kamu ngga cukup?”

Kidung terdiam. Dia malas memulai konflik kayak gini. Trauma atas apa yang dilakukan Ardi masih terasa.

“ngga….bukan gitu…aku…aku Cuma Tanya aja…”

“lebih baik ngga usah di tanyain Yung….yang penting  aku selalu ada buat kamu….”

+++

Weekend ini Sandy ijin ngga dateng karena ada Pelatihan di Bandung. Kiran terus merengek menanyakan kenapa Mas Sandy ngga dateng. Kalau sudah rewel,Kiran agak susah di bujuk lagi. Segala cara Kidung lakuin supaya Kiran berhenti merajuk. Dasar anak kecil,begitu di beliin mainan,baru deh diem.

Minggu berikutnya,Sandy pamit mau pulang ke Kalimantan selama seminggu. Katanya Mamanya sakit. Dengan cemas,Kidung melepas kepergian Sandy di Bandara malam itu.

“salam buat Mama & Papa kamu ya…”

“iya…nanti aku sampein….take care ya…”

“cepet pulang ya…”

Sandy terdiam & hanya mengelus rambut Kidung.

Seminggu Kidung menunggu Sandy. Kabar yang Kidung dapet,Mamanya masih kritis karena serangan jantung. Dua minggu Sandy pergi,dan komunikasi mereka mulai ngga lancar. Nomor Handphone Sandy ngga bisa di hubungin. Kidung jadi kalut. Dia takut terjadi apa-apa sama Mamanya Sandy. Masuk minggu ketiga,Kidung masih juga sabar menunggu Sandy pulang ke Jakarta. Dan malam itu,Kidung mendapati sebuah e-mail masuk dari akun Sandy

Dear My Lovely Kidung,

Maaf sudah membuat kamu menunggu lama. Terlalu lama malah semenjak kedekatan kita di kelas 1 SMP dulu. Bahkan kamu tetap ngga beranjak samapai hari kelulusan kita. Maaf ketika aku pergi tanpa kabar & membiarkan kamu sendiri. Pun,ketika bertahun kemudian kita bertemu lagi,aku tahu kalau rasa itu masih ada.

Yung,aku ngga pernah sekalipun terlibat hubungan dengan perempuan lain. Kalimat I Love You So Much yang ku tinggalkan untukmu,itu selalu ku jaga sampai akhirnya kita bertemu lagi. Terima kasih untuk semua pengertiannya Yung….

Ketika ku tinggalkan kamu di Bandara, aku tak ingin berjanji untuk kembali. Karena aku tahu aku ngga akan bisa nepatin janji itu ke kamu. Aku ngga akan kembali Yung….Mama ku sakit. Dan dia ingin aku di dekatnya. Dia ingin aku menikahi perempuan yang sudah dia pilihkan untukku. Sakit Yung…aku ngga bisa nerima kenyataan ini. Tapi aku ngga lagi bisa memilih. Karena ini adalah kewajiban ku sebagai anak. Besok,aku akan memulai hidup baru dengan perempuan yang aku sendiri ngga tau siapa dia & jelas aku ngga cinta sama dia.

Aku harap kamu mengerti. Aku harap kamu bisa menerima ini semua. Akan ada laki-laki lain yang lebih baik dari aku untuk mengisi hidup kamu & Kiran. Sampaikan salam sayang & cium rindu ku untuk Kiran.Aku ngga akan mungkin bisa lupain kamu,Yung….You’re the best I ever had.

Sandy Pratama

Air mata Kidung turun perlahan. Tangisnya tanpa suara. Badannya bergetar. Kepalanya mulai berat.  Kidung ngga percaya sama apa yang terjadi terhadap dirinya. Setelah Ardi pergi menyakiti hatinya,kepergian Mama & Papa yang mendadak, hengkangnya Mas Banyu dari rumah,sekarang…dia juga harus merelakan kepergian Sandy.

“Tuhan,kenapa kau lakukan ini….?Kenapa kau kirm dia jika sekarang dia ngga akan pernah jadi milikku….?Kenapa Tuhan…kenapa kau berikan cobaan seperti ini padaku…?Tidakkah aku pantas mendapat laki-laki yang mencintai ku dengan tulus?”

+++

Hari-hari Kidung kembali suram. Dia mencoba bersikap biasa. Tapi lingkungan ngga bisa biasa terhadap situasi ini. Kiran terus menerus menanyakan dimana Sandy. Belum lagi ketiga pembantunya juga menanyakan kenapa Sandy ngga pernah datang. Beberapa kali Mas Banyu juga menanyakan perkembangan hubungannya dengan Sandy. Teman-temannya di kantor juga mulai bertanya kenapa sekarang Kidung jarang terlihat berdua dengan Sandy. Pak Broto juga menanyakan hal yang sama.

Semua orang bertanya tentang Sandy,Sandy,Sandy,Sandy. Kidung makin sesak. Luka hatinya terasa perih lagi. Kidung merasa lelah. Lelah untuk membuka hati. Ardy & Sandy sudah cukup untuk membuat hatinya tertutup. Dan Kidung memutuskan untuk ngga membuka hati untuk siapapun. Dia ingin tenang dengan kehidupannya sendiri.

+++

Beberapa bulan setelah kepergian Sandy,Kidung sudah mulai kembali ceria. Pertanyaan tentang Sandy pun sudah ngga dia dengar lagi. Tapi tanpa sepengetahuan Kidung, Mas Banyu mau menjodohkan adiknya itu dengan teman kerjanya.

Ngga seperti biasa,Minggu sore itu Mas Banyu,Mba Alya & si kecil Alfa yang baru berusia beberapa bulan datang ke rumah. Kidung agak surprise juga menerima kedatangan kakaknya.

“tumben….”

“iseng aja mampir….tadi habis dari nikahan temen….” Kata Mas Banyu

Kidung mencoba mencairkan suasana dengan menggendong Alfa. Tapi apa yang terjadi?Kiran langsung cemberut melihat kakaknya menggendong anak bayi.

“lohh….ko Kiran marah?ini kan keponakannya Kiran juga…” Mba Alya menerangkan.

Akhirnya,Kidung menyerahkan Alfa ke ibunya & mendekati Kiran yang matanya mulai berkaca-kaca. Di peluknya adik kecilnya yang tersayang.

Mba Las masuk ke ruang keluarga

“anu Den Banyu,itu ada temennya yang cari…”

Mas Banyu langsung beranjak ke ruang tamu. Mba Alya mengekor di belakang. Samar-samar Kidung mendengar percakapan Mas Banyu dengan temannya. Agak janggal memang,Karena semenjak Mas Banyu pindah rumah,ngga pernah ada temennya yang datang kesini.

“Yung….sini yung….ajak Kiran juga”

Dengan enggan,Kidung menggandeng Kiran ke ruang tamu

“Yung,kenalkan,ini Rubi,temen mas di kantor”

Laki-laki bernama Rubi itu mengulurkan tangan. Setelah itu,Kidung pun ikut dalam obrolan.

“Rubi ini anak baru di kantor mas banyu….kebetulan tadi abis sama-sama dari nikahannya temen,mas suruh aja dia mampir kesini….”

Rubi. Laki-laki yang style-nya bisa di bilang tampilan Eksekutif mUda pada umumnya. Parfumnya parfum mahal. Kidung tau itu. Pakaiannya juga branded mahal. Dari obrolan sore itu,Kidung mulai tau tujuan kakaknya mengenalkan Rubi.

+++

Beberapa kali Rubi mengajak Kidung jalan. Tapi Kidung selalu punya alasan untuk menoiak. 1 kali. 2 kali. 3 kali. Tapi naas buat Kidung, di kali yang ke-4,Kidung ngga bisa nolak ketika Rubi mengajak dinner. Karena ngga ada alasan buat menolak karena Kiran sedang di ajak jalan-jalan ke Bandung sama Mas banyu & keluarganya.

Jadilah malam minggu itu Kidung dinner sama Rubi. Restoran yang di pilih juga bukan restoran sembarangan. Sebenernya,Kidung agak ngga suka makan di tempat seperti ini. Tapi,berhubung ini di ajakmjadi Kidung berusaha menikmati. Tapi selama makan malam,ngga sedikit pun Kidung bener-bener merasa nyaman sama Rubi.

Rubi berusaha mendekatkan diri dengan Kidung & Kiran. Tapi Kidung juga berusaha ngga memberikan kesempatan. SMS atau telfon dari Rubi jarang dia bales. Tapi si Rubi ini pejuang tangguh juga. Udah di cuekin,udah di jutekin,tapi tetep ngga kapok. Sampe akhirnya Rubi menyatakan cinta,Kidung dengan lugasnya menolak.

Setelah Rubi, Mas Banyu ngga kapok juga mencarikan jodoh buat kidung. Dia kenalkan Kidung sama temennya yang lain. Angga, Daniel, dan Fandi. Silih berganti laki-laki itu datang. Angga yang playboy,Daniel yang flamboyan abis,dan Fandy yang anak mami banget. Semuanya ngga ada yang nge-klik sama Kidung. Kidung sampe pusing sendiri jadinya menanggapi laki-laki yang disodorkan kakaknya.

Mas Banyu bener-bener ngga habis pikir kenapa Kidung ngga bisa milih salah satu dari laki-laki itu. Dengan santai Kidung menjawab

“ngga perlu repot-repot mas…nanti juga dateng sendiri…”

+++

Genap 2 tahun Kidung sendiri,setelah kepergian Ardy dan belum ada juga yang mengisi kisahnya setelah kepergian Sandy. Kidung menikmati kesendiriannya. Dia ngga pernah ambil pusing dengan komentar orang-orang yang khawatir di usianya yang menginjak 24 tahun tapi belum punya pasangan.

Hari itu Kiran sedang pementasan teater dari sanggarnya. Dari pagi Kidung sudah sibuk di Gedung Kesenian Jakarta. Dari mulai memakaikan kostum Kiran,menyuapi adiknya,sampai mengambil foto-foto adiknya. Tiba-tiba ada yang mendekati

“hai….”

Kidung menoleh. Deg ! Kidung sempet diam beberapa detik mengamati laki-laki di depannya ini.

“boleh kenalan?nama gw Harsya….”

Kidung pun menjabat tangan Harsya sambil masih deg-degan. Kidung ngga tau kenapa dia tiba-tiba grogi kayak gini.

“Kidung….”

“nama yang bagus…”

“makasih….”

“oh iya,gw mau ngajakin lo gabung sama klub fotografi…barangkali lo tertarik…karena gw liat dari tadi lo asik sama kamera lo…”

“oh..ini…ini mah Cuma karena hobi aja…” Kidung menunjuk Kamera yang dia pegang

“ngga apa-apa….gw juga awalnya cumi hobi….”

Akhirnya mereka terlibat obrolan yang cukup menarik. Harsya ini ternyata Om-nya Abel, temen teater Kiran. Dia dateng juga buat motret pementasan Abel. Jadilah sepanjang pertunjukan itu,Kidung punya temen ngobrol.

Di rumah,ngga tau kenapa Kidung masih kepikiran soal Harsya. Caranya ngajak kenalan,obrolannya,dan tatapan mata Harsya bikin Kidung ngerasa ada sesuatu yang hangat di dalam hatinya.

“oh…lo desainer interior?waahh boleh nih kapan-kapan bikini desain buat gw…”

“boleh…tapi ngga gratis….hehehe emang lo kerja dimana?”

“gw kerja di perusahaan swasta asing….”

“oh ya?seru tuh…di bidang apa?”

“konsultan….”

Pertemuan ngga sengaja Kidung dan Harsya membuat sesuatu yang ngga biasa untuk Kidung. Selepas pementasan itu, Kidung & Harsya mulai sering ketemu. Hunting foto,workshop fotografi atau sekedar ngajak Kiran jalan-jalan. Tapi Kidung ngga mau terlalu banyak berharap. Perih yang pernah dia rasain,cukup menjadi rem buat dia melangkah.

…..to be continue

2 thoughts on “Episode Kidung .: Senandung Cinta Kidung :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s