Episode kidung .: Air Mata Kidung :.


Sabtu pagi itu Kidung urung berangkat ke butik. Dia asik duduk di balkon rumah sambil maskeran & dengerin musik. Dan ketenangan Kidung terusik dengan celoteh cempreng adiknya

“mba…ko ngga ke butik sih?” Kiran duduk di samping Kidung sambil sibuk mencomoti cemilan di piring

Kidung nengok & memelototi adiknya. Kiran yang sekarang duduk di kelas 5 itu malah nyengir

“ngga ah…lagi males….”

“huuuu bilang aja mau jalan-jalan sama mas harsya….”

“ih….sok tau deh kamyu…..aku ngga jalan-jalan ko….orang harsyanya juga lagi tugas ke luar kota…”

“yawda,kalo gitu mba iyung temenin kiran aja…”

“hee….apakah??” Kidung menatap adiknya yang beranjak besar. Ya, Kiran sekarang duduk di kelas 5. Sudah mulai besar. Dan kerasa juga udah 4 tahun setelah kepergian Mama & Papa. Orang selalu bilang kalau Kiran itu fotokopi Kidung karena mereka mirip banget,ngga ada yang dibuang. Cuma bedanya, Kiran itu super tomboy. Rambutnya memang panjang,itu pun hasil pemaksaan Kidung.

“aku kan ngga pernah ke bioskop mba….kemarin itu temen-temen ku pada cerita tentang film di bioskop…..”

“ih….centil ah….bisokop kan tempat anak gede tau…” Kidung memasang timun di matanya

“ihh…mba iyung mah…ngga gaul ah….kan tergantung juga kita nonton apa…aku kan mau nonton film kartun mba….astro boy….”

Akhirnya setelah Kiran merayu-rayu kakaknya,Kidung mengabulkan.

“yawda…iya nanti kita nonton….”

Kiran langsung teriak kegirangan & tiba-tiba menyambar handphone Kidung yang ada di atas meja

“halo….mas harsya….aku sama mba iyung mau nonton nih….uuhh nyesel deh mas ngga ikut…”

Yah, selama 2 tahun ini Harsya menjadi bagian yang ngga terpisahkan. Semakin Kiran beranjak besar,dia makin tau siapa aja orang-orang terdekatnya. Kiran sudah mulai lupa sosok Ardy yang dulu lekat dalam pikirannya. Kiran ngga lagi suka merengek minta di belikan mainan. Ngga juga menangis kalau kesel. Kiran tumbuh menjadi anak perempuan yang kuat. Kesukaan barunya adalah menggambar komik.

+++

Kidung & Kiran masuk ke pusat perbelanjaan & langsung naik lift menuju bioskop. Ini memang kali pertama Kiran pergi ke bisokop karena Kidung ngga membiasakan adiknya pergi ke tempat-tempat seperti itu. Kidung lebih senang memabawa Kiran outbond,ke pantai,latihan berkuda,main layangan di taman kota,dan kegiatan alam lainnya. Beda sekali denga Alfa,keponakannya yang berusia 3 tahun. Mas Banyu sering sekali membawa Alfa ke pusat perbelanjaan & restoran fastfood. Demi kepraktisan katanya.

“mba….gimana cara nontonnya?”

“itu…kita ngantri disitu….” Kidung menggandeng Kiran & membeli tiket. Kidung menawari Kiran minuman & popcorn. Hmmm…..Kiran senang sekali. Lalu mereka berkeliling melihat poster-poster film yang di pajang.

“kidung….”

Kidung tersentak melihat sosok yang berdiri di depannya.

“apa kabar?”

“ar…ardy…” Kidung hampir ngga percaya kalau dia bakalan ketemu Ardy disini

“hai,,,Kiran ya?udah besar ya?” Ardy mengelus rambut Kiran. Kiran juga Cuma bengong melihat sosok Ardy

“ngga nyangka ya ketemu disini….padahal aku Cuma iseng aja jalan-jalan…” Ardy masih mengelus rambut Kiran. Itu memang kebiasaan Ardy kalau di deket Kiran

“ya….ngga nyangka….” Kidung berusaha mencairkan suasana

“udah lama ya Yung kita ngga ketemu….kamu ngga berubah….” Ardy menatap Kidung

“yah….kamu juga….” Kidung membuang pandangannya agar ngga beradu dengan pandangan Ardy

“kamu….sudah nikah Yung?”

“belum….kamu?”

“belum Yung….aku…aku….” Belum Ardy menyelesaikan kalimatnya,handphonenya bunyi

“sorry Yung….aku di tunggu klien di restoran….aku duluan ya…”

Selepas Ardy pergi, Kiran langsung menatap kakaknya

“mba….itu tadi beneran mas ardy?”

Kidung Cuma mengangkat bahu

“ko…beda ya mba?sekarang brewokan,rambutnya gondrong….serem…”

Kidung Cuma diam.

+++


Kidung masih merapikan barang bawaannya. Sementara Kiran sudah teriak-teriak dari meja makan.

“mbaaaaaaaaaaa cepetaaannn….nanti mas harsya keburu dateng….”

“iyaa…bentaaarr…” Kidung masih merapikan file-filenya ke dalam tas

Begitu turun,harsya sudah siap di ruang tamu.

“aduuhh ibu negara kita ini ya….repoot amat” Harsya membawa tas sekolah kiran

“heiiii…yang kerepotan tuh aku….ko tasnya Kiran yang dibawain??” Kidung cemberut

“ihh….mba iyung kan udah gede,,,,ngga perlu di bawain….yuk mas…kita ke mobil duluan….mba iyung kan belom sarapan…” Kiran langsung menggandeng Harsya ke mobil. Tinggal Kidung yang buru-buru menghabiskan sarapan. Setelah memberi tau Mba Las harus masak apa & memberi tau mang ujang harus jemput Kiran jam berapa,Kidung menyusul ke mobil

“inget ya mang…Kiran di jemput jam 1…habis itu langsung les bahasa inggris ya….”

Mang Ujang mengangguk.

+++

Anak-anak berhamburan keluar kelas. Karena ada rapat guru,jadi murid-murid di pulangkan lebih cepat, jam 10. Kiran membawa tas ranselnya keluar & memilih menunggu di teras depan kelasnya.

“loh….Kiran belum di jemput?” Bu Meli,wali kelas Kiran menemani Kiran duduk

“iyah belum…mang ujang biasanya jemput jam 1 bu….”

“ya udah,Kiran jangan kemana-mana ya…tunggu disini aja….” Bu Meli kembali ke ruang guru

Kiran duduk sambil asik baca majalah. Tapi lama-lama dia haus. Di tasnya memang ada air minum,tapi Kiran ingin beli es di warung depan sekolah. Ketika Kiran selesai jajan & mau kembali ke dalam, ada yang mencolek pundaknya

“hai….”

Kiran kaget & berjalan menjauhi orang itu

“kIran…tunggu…aku Cuma mau ngobrol ko….”

Kiran berhenti.

“aku pikir Kiran lagi istirahat,ngga taunya udah pulang ya?”

“i…iya….”

“Kiran nunggu di jemput?”

Kiran Cuma ngangguk. Orang yang ngga lain adalah Ardy itu belutut & memeluk Kiran

“mas Ardy kangen sama Kiran…..kangen sekali…”

Kiran menatap orang yang dulu pernah begitu dekat dengannya. Di usapnya wajah Ardy. Dibelainya rambut Ardy.

“mas Ardy ko jadi kayak gini sih?” Kiran menatap mata Ardy yang mulai berkaca-kaca

“mas ardy sakit….sakit Kiran…..” Suara Ardy tercekat menahan tangis

“sakit apa?”

“nanti Mas Ardy certain….kita sambil makan yu,,,,mau ngga?”

“nanti mang ujang gimana?”

“nanti mas Ardy telfon ke rumah….biar nanti mas Ardy yang anterin Kiran pulang ya”

Dan Kiran pun mengikuti Ardy ke mobil. Mereka menuju tempat makan favorit Kiran. Dengan lahapnya Kiran memesan ini & itu. Ngga ketinggalan,es krim. Sambil makan mereka cerita. Soal sekolah Kiran,soal ikan-ikan peliharaan Ardy. Soal hobi Kiran menggambar komik,soal apa saja.

+++

Kidung baru selesai meeting ketika kembali ke ruangannya & mendapati banyak panggilan tidak terjawab di handphonenya dan tertulis Mang Ujang. Kidung bingung,ada apa mang ujang menelfon berkali-kali

“ya mang ada apa?”

“anu mba….anu…”

“kenapa?”

“non kiran ndak ada di sekolahnya….”

“apa??ngga ada gimana maksudnya???” Kidung langsung panik. Badannya menegang.

“tadi waktu saya jemput,ternyata anak-anak bubar lebih cepat,terus pas saya sampai kesana non Kiran ndak ada eh mba….”

Kidung langsung tutup telfon & ganti menelfon Harsya. Ngga lama,Kidung ijin pulang sama Pak Broto setelah Harsya datang. Tempat yang di tuju Kidung pertama kali adalah sekolah Kiran. Tapi dia ngga dapet apa-apa disana. Sudah sepi. Warung di depan juga sudah tutup. Kidung memerintahkan Mang Ujang mencari ke semua rumah teman Kiran.

“Kiran ngga mungkin lupa jalan pulang Sya….ngga mungkin….” Kidung mulai berlinang air mata

“iya…I know….i know…Kiran bisa pulang naik ojek,naik becak….tapi kemana dia sekarang??” Harsya ikutan senewen. Mereka menyusuri jalan pulang dari sekolah Kiran ke rumah. Mereka menyisir kemungkinan Kiran lewat jalan lain & tersesat. Tapi nihil. Mereka sudah bolak-balik tetep aja Kiran ngga ketemu. Kidung mencari ke tempat les bahasa inggris Kiran,tapi kata tutornya,Kiran ngga masuk.

Sampai di rumah,Mang Ujang juga melaporkan kalau Kiran ngga ada di rumah temannya. Tangis Kidung pun pecah. Dia ngga bisa bayangin kalau sampai adiknya kenapa-kenapa

“kalo Kiran di culik gimana coba….kalo dia di apa-apain gimana coba….” Kidung mulai histeris.

Harsya mencoba menenangkan Kidung.

“gini aja ya sayang ya…kita tunggu beberapa jam lagi…kalau sampai sore Kiran ngga pulang,baru kita lapor polisi ya…” Harsya memeluk kekasihnya. Kidung perlahan mulai tenang. Seisi rumah menunggu Kiran dengan cemas sambil tetap menghubungi sana sini buat mencari tahu keberadaan Kiran.

Menjelang sore,ada suara mobil berhenti di depan rumah & diikuti suara cempreng Kiran

“assalammualaikum……”

Kidung berlari keluar & langsung memeluk asiknya

“kiran darimana aja sih de?mba iyung cari-cari kiran seharian….” Kidung menciumi adiknya.

Kiran Cuma nyengir

“maaf yung…tadi Kiran aku ajak makan….”

Kidung langsung berdiri & menatap Ardy yang berdiri di belakang Kiran

“apa maksud kamu bawa Kiran pergi tanpa ijin?apa?kamu mau macem-macem ya sama Kiran?” Kidung langsung emosi. Harsya berusaha menenangkan Kidung.

“bukan gitu….aku  tadinya Cuma lewat aja….ngga taunya sekolah Kiran udah bubaran….jadi aku ajak Kiran makan dulu…aku lupa mau kasih kabar….aku ngga ada maksud apa-apa ko…” Ardy merangkul Kiran yang masih berdiri di depannya. Kiran langsung menarik adiknya dari dekat Ardy. Kiran sempat berontak. Tapi Kidung lebih gesit. Di pegangnya tangan Kiran

“aku ngga butuh alesan apapun,sekarang silahkan kamu pergi dari sini & jangan pernah lagi coba-coba nemuin Kiran!”

Ardy Cuma bisa menunduk

“Yung,denger dulu….aku ngga ada maksud jahat…aku Cuma kangen sama Kiran…aku kesini juga mau sekalian pamit & minta maaf atas semua kesalahan aku….”

Kidung diam. Kiran mulai menangis. Ardy menatap Kiran. Tanpa diduga,Ardy menyalami Harsya

“aku…aku titip Kiran & Kidung ya….jaga mereka….”

Harsya Cuma mengangguk.

Ardy melangkah ke pagar.

“mas ardiiii….” Kiran menghambur ke pelukan Ardy. Kidung tadinya mau mengejar Kiran tapi Harsya menahan Kidung & mengisyaratkan untuk membiarkan mereka.

Kiran memeluk Ardy erat. Air matanya terus mengalir. Ardy mengusap pipi Kiran. Di dekapnya lagi gadis kecil itu. Ardy membisikan kata-kata di telinga Kiran. Kiran Cuma mengangguk.

“be a wonder woman….oke?”. Ardy mencium kening Kiran. Kiran masih dalam tangisnya.

Ardy pergi. Kiran langsung naik ke kamar. Panggilan kakaknya ngga dia dengar. Ajakan kakaknya untuk makan juga ngga dia dengar. Kiran mengurung diri di kamar. Akhirnya,Harsya mencoba membuka komunikasi dengan Kiran. Perlahan dia mengetuk pintu kamar Kiran

“de….de Kiran….ini mas Harsya….”

Ngga ada jawaban.

“Kiran….mas Hasrya mau pulang…..pamit ya….”

Klek ! Pintu kamar terbuka. Kiran berdiri masih dengan mata sembab. Harsya masuk & dengan isyarat,Kiran menyuruh harsya menutup pintu. Mereka duduk di pinggir tempat tidur.

“Mas harsya pulang dulu ya….besok pagi kita ketemu lagi…” Harsya menggenggam tangan Kiran

Kiran langsung memeluk Harsya. Tangisnya pecah lagi.

“kiran kenapa sayang?kenapa?” Harsya jadi panik

“mas…jangan tinggalin Kiran ya…jangan pernah pergi tinggalin Kiran….Cuma Mas harsya & Mba Iyung yang Kiran punya….Kiran ngga mau kehilangan lagi setelah Mama& Papa pergi….”

Harsya ngga ngerti apa maksud Kiran. Tapi setelah di bujuk beberapa menit,tangis Kiran mereda. Harsya menemani Kiran rebahan di tempat tidur & menyelimutinya. Mereka Cuma diam sampai akhirnya Kiran tertidur.

+++


Seminggu menjelang pernikahan Kidung & Harsya,semua keluarga turun tangan. Om, tante, Bude, bahkan sepupu Kidung yang tadinya jarang ketemu jadi sering dateng ke rumah. Kidung memang memutuskan menggelar resepsi di rumah supaya leluasa. Ngga jarang Mamanya Harsya datang buat ikut membantu persiapan di rumah.

Ngga gampang buat Kidung mengambil keputusan menikah dengan Harsya. Kidung ngga mau salah langkah. Kegagalannya dengan Ardy, Sandy masih membayang. Apalagi,pada awal kedekatannya dengan Harsya, cowok itu cuek banget. Ngga pernah sekalipun dia bicara cinta. Tapi setelah kedekatan mereka 1 tahun, Harsya memberanikan diri melamar Kidung secara langsung.

Waktu itu, mereka sedang hunting foto di kepulauan Seribu. Harsya mengajak Kidung untuk Snorkling. Kidung pun menyambut ajakan Harsya. Dan, apa yang terjadi di bawah sana? Harsya membawa clipboard khusus & dia menuliskan “Would you Marry Me,Kidung?”. Jelas Kidung shock banget. Harsya mendekatkan diri ke Kidung & dengan terbata-bata dia bilang

“be my lady,forever…plis…”

Kidung bingung harus jawab apa. Tapi nalurinya mengatakan kalau memang Harsya orang yang tepat. Dengan sekali anggukan, Harsya membopong Kidung naik ke atas & teman-teman mereka langsung menyambut dengan terompet,tepuk tangan dan siulan yang riuh sekali. Air mata Kidung menetes. Harsya memeluknya erat. Dan berbisik

“this is the last….and you’ll never have a story with the other guys….only me…”

+++


Kidung mengamati ada yang berubah dari sikap Kiran belakangan ini. Tepatnya setelah pertemuan Kiran dengan Ardy. Kiran jadi murung. Malas makan. Dan, gambar komik Kiran semua bercerita tentang kesedihan.

“de…kenapa sih?ko belakangan ini murung terus?” Kidung duduk di samping Kiran

Kiran Cuma diam.

“kan seminggu lagi mba Iyung mau nikah,ade ngga seneng ya?”

“bukan….bukan itu…aku seneng ko…”

“terus kenapa?”

“ga apa-apa….mba iyung tau ngga, kalo nanti pas pernikahan mba iyung,mba iyung pasti bakalan jadi pengantin tercantik seduniaaa….” Kiran memeluk kakaknya

Kidung mencium rambut adiknya.

+++

3 hari menjelang pernikahan,Kidung dipingit. Dia & Harsya sudah sama-sama ambil cuti. Kidung lagi nonton TV di ruang tengah sambil dipakaikan Henna di tangan & kakinya. Bude Astuti duduk di samping Kidung

“piye rasane Yung?”

Kidung Cuma tersenyum

“bude seneng akhirnya kamu bisa menikah….walaupun Mama & Papa mu ngga sempet lihat….”

“iya bude….Kidung juga ngga nyangka akan sampai di titik ini….”

“bude tau sekali perasaan mu…harusnya sudah 5 taun yang lalu toh kamu jadi manten sama Ardy…tapi takdir ngga menuntun mu kesana…terus kegagalan mu sama siapa temen SMP mu itu ?”

“Sandy….”

“iya….Tuhan belum mengijinkan kamu bersanding dengan Sandy….Yung, semua sudah di tentukan sama  Tuhan,kita harus bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum akhirnya kita di pertemukan dengan jodoh kita…semua adalah anugerah Yung…”

“iya bude…..semoga Harsya jadi yang terakhir buat Kidung….”

+++

Hari ini akan dilaksanakan prosesi siraman & pengajian. Tapi Kiran ngga bisa ijin sekolah karena sedang ulangan. Akhirnya Kiran pergi sekolah di antar mang ujang.

“ade hati-hati ya…..” Kidung mencium kening Kiran.

Semua prosesi dilewati Kidung dengan khusyuk & khidmat. Bayangan Mama & Papa terasa hadir dekat sekali. Perasaan sedih karena mereka ngga bisa melihat Kidung di hari yang bersejarah ini. Sedih karena si kecil Kiran terpaksa harus tetap sekolah.

Jam 1 siang,semua prosesi telah rampung. Kidung tampak cantik dalam balutan baju gamis berwarna biru muda. Setelah menyalami ibu-ibu pengajian yang hadir,Kidung bergegas ke dapur.

“mang ujang belum pulang?”

Mba Las & Bi Tum menggeleng.

“harusnya Kiran udah sampe rumah kan?” Kidung mulai panik

Kidung menelfon mang ujang, tapi buru-buru Mba Las memberi tau kalau handphone mang ujang tertinggal di dapur. Kidung mulai senewen. Mas Banyu langsung menyusul ke sekolah Kidung

“kamu di rumah aja…” Mas Banyu langsung memacu mobilnya.

Sampai di sekolah Kiran, sudah kosong. Mas Banyu menelfon Kidung

“apa???udah kosong??yang bener aja mas…..terus mang ujang sama Kiran kemana??” Kidung mulai menangis.

Kidung mengabari Harsya.

“Kiran ngga ada sya…..”

“coba cari ke rumah temennya…..”

“iya udah….ngga ada juga….”

Semua keluarga di buat panik karena Kiran ngga juga pulang sampai menjelang sore. Tiba-tiba Kidung ingat, terakhir Kiran ngga juga pulang karena di ajak jalan sama Ardy. Tapi setelah di pikir lagi, kan ada mang ujang yang menunggui,jadi ngga mungkin Ardy bisa membawa Kidung. Semua mencari,tapi hasilnya nihil. Kidung ngga henti menangis.

Sampai menjelang malam,Kiran & Mang Ujang belum juga pulang. Akhirnya Mas Banyu memutuskan untuk lapor ke kantor polisi. Kidung sampai berpikir untuk membatalkan pernikahan besok

“kamu jangan berpikir bodoh dong Yung….” Mba Alya bicara

“habis gimana mba??sampe sekarang Kiran belum juga ketemu…aku ngga bisa kaya gini….aku bisa gila mba…..”


Hari semakin malam. Tapi masih belum ada perubahan. Sampai jam 9 malam,telepon bunyi. Kidung cepet-cepet ambil alih

“halo….”

“halo….Kaka….ini Kiran”

“kiran??kamu dimana sayang??kamu dimana?kenapa belum pulang?”

“aku sekarang ada di rumah sakit Pelita Ka…kaka kesini ya….”

Belum sempet Kidung bertanya,sambungan telepon putus. Tanpa pikir panjang, Kidung mengambil kunci mobil & pergi. Kejadian yang begitu cepat membuat keluarga ngga ada yang bisa mencegah kepergian Kidung.

“gimana sih??ko bisa-bisanya Kidung di biarin pergi???” Mas Banyu marah


+++

Sampai di rumah sakit Pelita, Kidung langsung menuju UGD. Karena dia pikir,kalau Kiran kenapa=kenapa pasti lebih dulu di tangani di UGD. Tapi ngga ada. Dengan air mata berlinang, Kidung mencari. Dia bertanya sama suster. Beruntung, ketika Kidung bertanya sama satpam,dia dapat jawaban

“oh…anak kecil yang pake seragam?yang di anter bapak-bapak separuh baya?”

“iya Pa….iya….”

“dari tadi siang rasanya ada di depan ICU bu….”

Kidung langsung menuju ICU. Benar saja,di ruang tunggu, Kidung melihat Kiran sedang duduk ditemani mang ujang

“kiraan!!!!!”

Kidung memeluk Kiran. Kiran menangis.

“kiran….kiran kenapa??kenapa nangis?ngapain Kiran disini?”

Kiran menuntun Kidung mendekat kearah kaca Ruang ICU. Dari sela-sela Tirai, Kidung samar-samar mengenali laki-laki yang tengah terbaring dengan dukungan alat medis itu. Dia tercekat

“ar….ardy….” Kidung memegangi kepalanya. Seakan ngga percaya sama apa yang dia liat

“mas ardy sakit mba….hidupnya ngga lama lagi…itu mas ardy lagi berjuang mba….”

Kidung memeluk Kiran

“Kiran tau darimana?”

“waktu Kiran pergi sama mas ardy,Kiran di ceritain semuanya mba….mas ardy bilang kalo sebentar lagi mas ardy mau tidur untuk selamanya….” Kiran menangis tanpa suara,hanya badannya yang tergetar

Kidung mencari keluarga Ardy. Tapi nihil. Akhirnya Kidung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari R. ICU

“anda keluarganya saudara Ardy?”

“saya…saya temannya dok….”

“baiklah,dengan berat hati saya harus katakan kalau waktunya ngga lama lagi….”

“maksud dokter?”

“loh?mba ini ngga tau?atau bagaimana?”

“saya…saya ngga tau dok….”

“saudara ardy tidak pernah cerita?”

Kidung menggeleng.

“begini mba…” Dokter itu mengerenyit tanda menanyakan namanya

“Kidung….”

“yah begini mba Kidung, bapa Ardy mengidap HIV AIDS sejak 1 tahun belakangan,saya yang menangani ….sejak 3 hari lalu beliau tidak sadarkan diri….dan keadaan ini ngga akan lama…..dengan sangat menyesal saya harus memberitahu….”

“keluarganya??”

“dari awal,tidak pernah ada keluarganya yang menemani berobat atau menjenguk….dulu Bapa Ardy pernah bilang kalau keluarganya sudah tidak menerima kehadirannya lagi….makanya,selama ini beliau berjuang sendirian….”

Kidung langsung lemas. Dia terduduk tidak berdaya di kursi.

“mba iyung….tadi siang tuh Kiran di telfon sama ibu dokter itu ke sekolah….”

“how come?”

“waktu ketemu mas ardy, mas ardy minta nomor telepon sekolah Kiran….ya udah, Kiran kasih aja….”

Rupanya Ardy banyak bercerita soal Kiran sama dokter itu. Makanya,ketika keadaan Ardy semakin buruk, Kiran lah satu-satunya orang yang bisa di hubungi. Kidung membawa Kiran pulang.

“mas ardy….jangan menyerah ya…besok Kiran kesini lagi…..”

Kidung menangis. Dia ngga nyangka,seorang Ardy terkena HIV AIDS & sekarang nyawanya tengah sekarat.

+++


Jam 8 pagi, akad nikah dimulai. Kidung tampak cantik dalam balutan kebaya berwarna Gading. Harsya duduk di sampingnya dengan gagah. Air mata Kidung tidak terbendung. Sekelebat bayangan Mama & Papa terlihat jelas. Mungkin Mama & Papa ingin menyaksikan saat-saat bersejarah untuk putri mereka. Dan ketika Harsya mengucap ijab Kabul, sekelebat bayangan Ardy mendadak muncul. Kidung agak terkejut. Tapi setelah itu,bayangan itu hilang.

“bagaimana para saksi?sah?”

“sah….”

“alhamdulilah…….”

Kidung & Harsya resmi menjadi sepasang suami istri. Cincin di jari mereka jadi saksi. Ketika akad nikah selesai, Kidung bersiap ganti pakaian untuk resepsi. Tiba-tiba handphonenya berbunyi.

“ya halo….”

“halo…mba Kidung?”

“ya…ini siapa?”

“saya dokter Sandra,yang kemaren di RS Pelita…ingat?”

“ya…ada apa dok?”

“saya…mau mengabarkan kalau Bapa Ardy sudah berpulang tepat jam 8.20 pagi tadi….”

Kidung tersentak. Kidung merasa dunianya berputar cepat. Badannya limbung. Harsya yang tepat berada di sampingnya langsung memeluk Kidung.

“mba….mba iyuung….” Kiran ikut memeluk kakaknya


Kidung di baringkan di tempat tidurnya. Semua keluarga berkumpul. Tapi begitu Kidung siuman,dia memberi isyarat agar semuanya keluar. Kiran juga hendak meninggalkan kamar,tapi Kidung memberi isyarat untuk tetap disitu

“Kiran sayang….sini….”

Kiran duduk di samping kakaknya

“mas ardy udah ngga ada sayang…..mas ardy udah tidur tenang selamanya….”

Kiran nangis sejadi-jadinya. Ardy adalah orang yang begitu dekat dengan Kiran. Mulai dari Kiran berumur 1 tahun. Jadi rasa kehilangan itu nyata sekali.

Saat resepsi, Kidung berusaha terlihat bahagia,walaupun ada sedikit bagian hatinya yang terluka dengan kepergian Ardy.

+++

Dari apartemen Ardy, Kidung menemukan beberapa surat untuk dirinya yang tidak sempat dikirim oleh Ardy. Harsya yang menyerahkan amplop berisi surat-surat itu.

“boleh aku buka?”

“boleh….buka aja sayang….” Harsya memeluk Kidung

Bidadari itu telah aku lukai

Telaga cintanya telah aku nodai

Dan dengan apa kata maaf itu harus ku ucap?

Ketika tiap malam ku di hantui bayangnya

Pun telah bertahun lamanya,

Masih bisa ku hirup aroma tubuhnya

Dia masih disini

Di hati

Walaupun dia telah dimiliki

Aku menjadi buas

Menjadi petualang cinta

Bukan untuk kesenangan ku semata

Tapi untuk membunuh bayangnya yang selalu menghantui

Aku putus asa

Ketika tangisnya terus terdengar di telingaku

Aku tersiksa saat tawanya masih menggema di relungku

Dan ketika waktu ku tersisa sedikit,

Biarlah Tuhan menghukum ku

Agar dosa ku pada Bidadari itu tertebus

Aku hanya ingin hidupnya bahagia

Walaupun aku tidak

-menjelang akhir dari penghabisan penyakit ku-

***Finish***

4 thoughts on “Episode kidung .: Air Mata Kidung :.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s