.: Diatas Langit Masih Ada Langit :.


Kenapa diatas langit masih ada langit?

Itu sekedar kiasan. Bahwa diatas orang yang mengaku dirinya pemimpin & berkuasa,masih ada yang lebih berkuasa. Jabatan hanya asesoris di dunia. Ngga kekal. Ngga abadi. Itu Cuma titipan. Tapi kenapa yah orang yang merasa dirinya pemimpin atau penguasa & merasa berkuasa, terlihat seolah begitu bangga dengan asesorisnya itu. Dia merasa bahwa dirinya paling. Paling hebat. Paling pintar. Paling tahu segalanya. Kadang juga merasa paling rupawan. Dan perasaan dikuasai nafsu paling – paling itulah yang membuat dia lupa daratan. Lupa bahwa (mungkin) dia dulu juga pernah jadi bawahan / pesuruh. Lupa bahwa apa yang dia punya, dia pakai itu hanya titipan. Lupa bahwa masih ada yang jauh lebih berkuasa daripada dia, yaitu Allah SWT. Si dia, yang merasa menjadi pemimpin & berkuasa lantas akan bertindak semena – mena, melakukan segala sesuatu sekehendaknya sendiri, bahkan mungkin ‘menindas’ menjadi hal yang menyenangkan untuknya. Walaupun ngga semua Pemimpin & Penguasa seperti itu, tapi kebanyakan yaaaa begitu.

Sebenernya, Pemimpin itu apa sih?

Pemimpin (Boss, Ketua, Presiden, Manager, Owner,dsb), hanya sebutan untuk orang yang berkuasa.

Ya, itu hanya jabatan. Bukan berarti mutlak menjadikan dirinya penguasa. Justru itu menjadi sebuah tanggung jawab besar. Karena ia harus mampu memimpin & mengayomi. Memimpin anak buah / bawahannya agar tim kerjanya kompak & mencapai hasil yang memuaskan. Mengayomi, atau melindungi anak buah / bawahannya dalam artian, melindungi keselamatan di tempat kerja dengan membuat kebijakan keselamatan & kesehatan lingkungan kerja, melindungi bisa juga dalam artian, memberikan semua hak para anak buah / bawahan sehingga mereka merasa hak – haknya dijamin. Bukan malah menindas, merampas / menahan hak, berbuat semena – mena tanpa memikirkan nasib & perasaan para bawahannya.

Ciri Pemimpin Yang Baik Menurut Stephen R Covey

1–Mereka terus belajar.

Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.

2–Mereka berorientasi pada pelayanan.

Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier. Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan untuk memikul beban orang lain. Pemimpin yang tak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.

3–Mereka memancarkan energi positif.

Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.

4–Mereka mempercayai orang lain.

Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi.
Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.

5–Mereka hidup seimbang.

Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Mereka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.

6–Mereka melihat hidup sebagai sebuah petualangan.

Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru.
Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan.

7–Mereka sinergistik.

Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif. Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.

8–Mereka berlatih untuk memperbarui diri.

Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.

(Stephen R. Covey)

Yah, semoga ini bisa jadi renungan bersama. Semoga bisa menjadi reminder untuk kita kalau nanti suatu saat (Insya Allah) kita menjadi pemimpin, ya jangan takabur, jangan lupa kalau dulu kita juga pernah ‘susah’, jangan lupa daratan, ingat Diatas Langit Masih Ada Langit.

Semoga Bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s