Bioskop Dadakan di Rumah Belajar Mutiara Mandiri


Cerita asal muasal kegiatan ini bisa dibaca disini. Jam setengah 9 pagi, aku & Arief sampe di Rumah Belajar Mutiara Mandiri. Ruangan yang akan disulap jadi bioskop dadakan itu adalah rumah Pak Uban, orang tua Bu Omah yang dengan sukarela dipinjamkan. Waktu aku datang, anak – anak udah pada kumpul ditemani orangtuanya. Wajah mereka menyiratkan rasa senang, penasaran, antusias & polos.

Aku & Arief langsung setting laptop, proyektor, speaker aktif & DVD Film Laskar Pelangi. Anak – anak yang pada nunggu diluar bikin kita jadi agak grogi. Ibu – ibu yang nganter juga pada antusias. “ini kayak layar tancep ya?tapi ko di dalem?ko ngga pake kaen?”. Ada – ada aja celetukan dari ibu – ibu. Setelah setting selesai, anak – anak pun disuruh masuk & menyerahkan karcis bisokop yang terbuat dari kertas yang dipotong kecil & diberi stempel.

Pemutaran film sesi pertama adalah anak – anak usia TK. Sementara yang usia SD aku ajak mereka masuk ke kelas. Karena yang ngajar hanya aku, jadi mereka aku bagi 2 kelas. Aku pisahkan laki – laki & perempuan supaya ngga ribut. Aku mulai dengan perkenalan, melafalkan abjad dalam bahasa Inggris dan pengenalan benda. Misal, A dibaca ei, contohnya Apple dan seterusnya sampai Z. Aku pakai medianya kertas ukuran A4 yang diberi huruf & gambar warna – warni.

Anak laki – laki memang lebih susah diatur dibanding anak perempuan. Sementara itu, yang nonton film sih awalnya aman terkendali karena di handle sama Arief, Wahid & Fa’i. Ya tapi namanya anak kecil, lama – lama ngga bisa diem. Yang satu nangis, yang satu minta minum, yang lainnya ikutan ribut. Akhirnya baru setengah film, bubar jalan. Nah, yang usia SD yang seneng karena mereka bisa nonton film.

Dari awal sampai hampir akhir film sih lancar – lancar aja. Tapi begitu hujan deras, petir & angin kenceng, anak – anak itu pada ketakutan & akhirnya minta pulang. Yah, walaupun filmnya ngga selesai, tapi mereka senang. Karena selain nonton film & belajar bahasa Inggris, mereka juga dapet cemilan walaupun alakadarnya.

Setelah itu, aku & teman – teman (Arief, Kiki, Pita, Wahid, Fa’I) makan siang bareng Ibu Omah & Pak Toni. Lalu datang Mba Lani, wartawan Radar Bekasi yang tadinya mau ngeliput kegiatan hari itu. Tapi karena beliau ada acara & sempet nyasar plus kehujanan, yaaa anak – anaknya udah pada bubar. Jadilah aku yang diwawancarai. Setelah itu Pak Rawi datang membawa majalah untuk anak – anak. Terima Kasih ya Pak. Anak – anak IBOTE juga datang, walaupun ngga semuanya. Mereka juga membawa buku 2 kardus. Terima kasih ya semuanya.

Pulang dari tempat Pak Toni, kami terjebak banjir menuju rumah ku. Tapi Alhamdulillah, nyampe juga. Ah….kegiatan hari ini memberi banyak pelajaran buat aku, Arief dan Mas Wahid juga Fa’I , Kiki, dan Pita yang menyempatkan datang. Aku, Arief & Mas Wahid mengevalusi kegiatan ini agar ke depannya kami lebih siap, lebih sigap & bisa melakukan lebih baik lagi.

Terima kasih buat Pak Toni & Ibu Omah juga anak – anak Rumah Belajar Mutiara Mandiri yang menerima kami dengan antusias & tulus. Perjalanan masih panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s