Posted in Catatan Ku, Personal

I’m Not a Girl, Not Yet a Woman

Seperti biasa, saya selalu mendadak melow menjelang hari kelahiran. Hari ini, H-1 menuju usia saya yang ke-24. Memang ngga ada yang spesial atau “WOW”. Tapi memang kebiasaan saya, setiap menuju tanggal 6 Oktober, saya kembali ber-Muhasabah. Perjalanan satu tahun terakhir, dan apa yang harus saya lakukan.

I’m not a Girl, Not Yet a Woman. DI usia yang bisa dibilang, bukan ABG lagi, dengan banyak cerita dahsyat hampir satu tahun belakangan ini, menjadikan saat-saat menuju usia 24 ini begitu penuh makna bagi saya.

Mungkin ini juga dialami banyak perempuan se-usia saya di masa kini. Para perempuan yang hidup dan besar di jaman modern. Banyak orang bilang, wanita jaman sekarang beda dengan para perempuan jaman dulu. Betul. Karena jaman juga berubah. Tapi bukan berarti meninggalkan kodratnya.

Para perempuan sekarang jauh lebih aktif, lebih berinovasi, dengan segala macam kegiatan. Pasti banyak juga teman-teman yang kuliah sambil kerja, kerja jauh dari rumah, yang menyukai hobi tertentu, sibuk dengan komunitas, atau sibuk dengan kegiatan macam-macam. Tapi terlepas dari itu semua, kami, para Perempuan ini masih menjadi anak perempuan kecil kesayangan Ayah & Ibu. Masih jadi kesayangan Keluarga Besar.

Di tengah euforia sebagai perempuan masa kini, kita juga masih punya tanggung jawab sebagai anak perempuan yang harus inget umur, katanya. Hubungannya ya pasti dengan status melepas masa lajang. Banyak yang memang ngga merasa bermasalah dengan hal ini. Keluarganya fine-fine aja di usia mendekati angka 25, anak perempuannya masih single. Tapi ngga sedikit juga yang keluarganya sudah mengultimatum sang anak perempuan untuk menyegerakan.

Beda keluarga, beda latar belakang, beda juga ceritanya. Yang pasti, semua demi kebaikan bersama.

Semoga di usia 24 ini saya bisa semakin dewasa, semakin matang dalam berpikir, dan bisa menyelesaikan tugas saya selanjutnya kepada orang tua saya 😉 , yaitu segera menikah. Amiin

Buat perempuan- perempuan di luar sana, You Go Girl…!

 

 

 

Advertisements
Posted in Artikel, Catatan Ku, Personal

Gandamayu | Perempuan ; Ibu Sejati Langit dan Bumi

 

Selasa, 4 September 2012 bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, dipentaskan repertoar Gandamayu, yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Putu Fajar Arcana. Gandamayu mengangkat kisah tentang nilai luhur kesetiaan, pengorbanan dan keikhlasan.

Cerita yang apik, para pemain hebat diantaranya Ine Febriyanti & Ayu Laksmi, serta di dukung tata panggung, cahaya & musik yang ciamik, membuat Gandamayu, menurut saya pribadi memang layak di tonton. Two Thumbs Up buat Teater Garasi & Arcana Foundation. Kereeennnnn

Menceritakan Dewi Uma yang diuji kesetiaannya oleh sang suami, Dewa Siwa, yang tidak percaya kepada istrinya. Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi Durga, yang tinggal di hutan menyeramkan. Uma bisa kembali ke kahyangan hanya jika ia diruwat oleh Sahadewa, adik bungsu Pandawa. Ketika itu sedang berlangsung perang Bharata Yudha, Ibu dari Pandawa, Dewi Kunti, datang ke Gandamayu meminta pertolongan Durga agar Pandawa tidak binasa dalam peperangan tersebut. Durga meminta tumbal, Sahadewa. Namun karena cintanya pada sang anak, Dewi Kunti tidak menyetujui. Durga menjadi murka. Ia memerintahkan Kalika, abdinya untuk merasuki tubuh Kunti dan membawa Sahadewa ke Gandamayu. Akhirnya, Durga dapat diruwat kembali menjadi Dewi Uma. Dewa Siwa pun menyesali perbuatannya yang tidak mempercayai kesetiaan istrinya.

Dalam cerita ini juga terdapat dialog-dialog renungan yang menggugat Perang Bharata Yudha, yaitu diskriminasi terhadap perempuan dan nilai-nilai keikhlasan pengorbanan.

Ladies, this is very recomended. Datang, saksikan, resapi, dan ambil nilai-nilai positif dibalik cerita ini.

Posted in Catatan Ku, Daily Activity

Kopdar Sesi Curhat – Perempuan Bicara

image

Awalnya,karena seneng mantengin TLnya Mba Risa Amrikasari ( @RisaHart ) yang isinya macem-macem. Tapi jelas,menginspirasi. Tentang kehidupan sehari-hari,tentang hal-hal sederhana yang nyata dialami. Memotivasi tanpa menggurui. Memotivasi tapi bukan dengan cara yang meyeh-meyeh atau lenjeh. Tegas.

Seringnya berinteraksi sama Mba Risa di twitter,bikin kita,para perempuan followernya mba risa ini jadi kenal satu sama lain,walaupun hanya lewat twitter. Pertemanan lewat twitter ini berlanjut dengan tukeran nomor hape,akun YM,dan sebagainya. Kami membuat hastag #WomanHood.

Dan,akhirnyaaa….28 April kemarin Mba Risa & tante Desiree menggelar kopdar sesi curhat. Yang jadi cikal bakal komunitas Perempuan Bicara. Visinya apa? Membantu sesama perempuan,saling menguatkan & pada akhirnya kita bisa menularkan kekuatan ini pada lingkungan sekitar. Simple. Di acara kopdar kemarin juga hadir Kak Jane Shalimar.

Seneng banget bisa ketemu teman baru dan langsung bisa membaur. Mudah-mudahan next event bisa lebih banyak lagi peserta yang datang.

Perempuan,saatnya bicara & berbuat untuk sesama.

image

Posted in Catatan Ku

End of January

Ngga kerasa. Udah akhir Januari. 31 hari pertama di 2012 terlewati. Saya merasa belum melakukan apa-apa. Atau sudah,tapi tidak terasa. Ahhh entahlah. Yang jelas, ada hal besar menanti setelah hari ini, hari terakhir di bulan Januari terlewati. Hal besar ini yang dari beberapa bulan lalu terus mengganggu pikiran saya.

Bukan soal kerjaan. Bukan soal kegiatan sosial. Bukan.

Ini soal hati. Huffftt. Begini rasanya ada di fase “perempuan dewasa” atau apalah menyebutnya. 23 tahun, menuju 24 tahun. Saya ngga tau apakah teman-teman seusia saya mengalami perasaan seperti ini juga. Yang jelas,saya stress.

Ngga pernah ada dalam bayangan saya ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan gamblangnya bilang “aku mau nikah sama kamu…kamu siapnya kapan?” . Whaaatt??? buat ku, itu sudah masa laluuu sekali. 3 tahun lalu bahkan hampir menikah setelah pacaran 8 tahun. Tapi Tuhan rupanya belum mengizinkan. 3 tahun saya berjuang menata hati. Memperbaiki hidup saya yang porak poranda. Tanpa hubungan dengan siapapun.

Dan saya belum kepikiran untuk “melangkah lebih jauh”. Tapi begitu hebatnya Rasa yang sedang Tuhan berikan pada saya. Dan, harus segera dieksekusi. Lelaki itu akan segera menghadap ayah & ibu saya. Meminta izin & restu. Itu yang bikin saya stress. Saya ngga tau ayah & ibu saya akan bereaksi seperti apa. Karena memang belum ada “sinyal lampu hijau” dari mereka.

Semoga Tuhan melancarkan & mempermudah segala sesuatunya. Saya ngga tau harus meminta apa sama Tuhan. Saya memasrahkan semuanya kepada Sang Maha Cinta. Tuhan sudah menyiapkan semua. Yang indah, disaat yang tepat.

End of January, ketika saya berani memutuskan sebuah hal besar dalam hidup saya.

Posted in Catatan Ku

Teruntuk Para Perempuan

22 Desember kita kenal dengan sebutan Hari Ibu. Sebenernya agak gak pas kalo disebut cuma Hari Ibu. Lebih tepatnya, Hari Perempuan Indonesia. Heheheh it’s just my opinion yang diilhami dari beberapa tweet-nya Mba Risa Amrikasari . Kenapa begitu? Ada yang tau sejarah dibalik ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai peringatan Hari Ibu? Ini saya ambil dari Wikipedia .

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 2225 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Wiiihh hebat banget kan kalau lihat sejarahnya. Itulah, ketika Mba Risa membuat hastag #PerempuanIndonesiaHarusPintar di twitter,saya merasa seperti sebuah gemblengan buat kita para perempuan. Kalau jaman dulu aja para Perempuan sudah bisa bersatu untuk sebuah misi hebat nan mulia menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan dan sejarah Hari Ibu tanggal 22 Desember untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini, maka memang sudah seharusnya kita para perempuan Indonesia HARUS PINTAR.

Pintar, bukan cuma soal akademis atau angka-angka di rapor atau IPK. Pintar di segala aspek. Pintar menjaga diri, pintar bergaul, dan pintar untuk urusan hati juga. Ketika Perempuan bisa mandiri,memiliki keahlian,bahkan bisa mandiri secara finansial itu Pintar. Perempuan memiliki karir cemerlang, bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, itu Pintar. Perempuan yang mengurus rumah secara full,menjaga & mengasuh anak-anaknya juga Pintar.

Marak banget kasus kekerasan,pelecehan atau hal-hal negatif kepada Perempuan. Itulah kenapa Perempuan harus pintar jaga diri. Bawa bubuk merica atau spray selalu di tas. Atau punya basic bela diri lebih bagus. Kita sebagai perempuan,ngga bisa melulu bergantung sama laki-laki. Minta dijagain 24 jam.

Begitu juga soal finansial. Almarhum Kakek saya pernah berpesan kepada Mama, yang akhirnya selalu menjadi pegangan saya. “Jadi perempuan,harus mandiri,walaupun udah nikah,tetep kerja ngga apa-apa….selama masih tau kewajiban sebagai istri & ibu…harus tetep punya penghasilan…hidup orang ga ada yang tau…kalau paitnya terjadi sesuatu sama suami kamu,kamu masih tetep punya pegangan hidup…”. Nasehat itu terus tertanam di hati saya.

Selamat Memperingati tanggal 22 Desember untuk seluruh perempuan di Indonesia. Be Smart, Be Confidence, Be Independent, Be Brave. Tapi tetep harus inget kodrat sebagai perempuan (-begitu pesan Papa saya).

Special for My Mom, you’re the best….you’re my soul…you’re my hero……I LOVE YOU MAMA